Membacakan Nyaring Sebagai Investasi Terbaik untuk Anak: Review Buku "The Read Aloud Handbook"

Judul Buku : The Read-Aloud Handbook
Penulis : Jim Trelease (diperbarui oleh Cyndi Giorgis)
Kategori : Parenting/Pendidikan
Jumlah Hlm : 404 Hlm
Sepertinya kita sepakat kalau hidup di tengah kecanggihan teknologi, selain memang mudah juga banyak sekali tantangannya. Apalagi saat ini banyak sekali suguhan platform menarik dengan konten-konten yang berhasil membuat kita terjebak berjam-jam di depan layar gadget. Sayangnya, hal ini tidak hanya terjadi pada kita, orang dewasa, melainkan pada anak-anak bahkan di usia mereka yang masih sangat muda.
Banyak penelitian menyebutkan bahwa kecanduan gadget layaknya memberi dopamine instan kepada anak. Anak senang, namun sesaat. Dan saat sumber kesenangannya direnggut, mereka akan menjadi tidak terkendali. Oleh karena itu, rasanya penting bagi kita orang tua untuk mengalihkan perhatian dan rasa penasaran anak menggunakan media yang lebih ramah dan bermanfaat.
Salah satu hal bermanfaat adalah membaca buku. Namun, jauh sebelum anak mampu fokus membaca hingga mampu memahami isi bacaannya, orang tua harus terlebih dahulu mengenalkan kebiasaan membaca kepada anak. Salah satu caranya adalah dengan rajin dibacakan nyaring.
Melalui "The Read-Aloud Handbook", Jim Trelease menyampaikan pesan sederhana yang sangat berkesan yaitu bahwa cara terampuh untuk menumbuhkan minat baca anak adalah dengan membacakan buku secara nyaring kepada mereka (read-aloud). Buku ini bukan sekadar panduan teknis, melainkan sebuah gerakan literasi keluarga yang didukung oleh berbagai data, riset ilmiah, dan kisah nyata.
Jim Trelease dalam buku ini menekankan dua hal dasar dalam literasi anak:
Manusia adalah makhluk yang mencari kesenangan dan anak-anak yang merupakan bagian dari manusia akan mengulangi hal-hal yang membuat mereka merasa senang.
Membaca adalah keterampilan yang dilatih. Semakin sering anak membaca (atau didengarkan bacaan), maka semakin mahir mereka.
Dengan membacakan buku secara nyaring, kita tengah menghubungkan kegiatan membaca dengan rasa nyaman, kehangatan, dan kesenangan. Hasilnya, anak tidak menganggap membaca sebagai beban sekolah, melainkan sebuah aktivitas yang menyenangkan.
Selain ini ada beberapa poin menarik yang juga disampaikan di dalam buku ini, antara lain:
Anak yang sering dibacakan nyaring mampu memahami kata-kata yang diucapkan pada level yang jauh lebih tinggi daripada level kata yang bisa mereka baca sendiri. Membacakan buku dengan tingkat kosakata yang lebih tinggi membantu memperkaya perbendaharaan kata mereka sebelum mereka mempelajarinya di sekolah.
Banyak orang tua berhenti membacakan buku ketika anak sudah bisa membaca sendiri. Namun Jim Trelease menekankan bahwa kegiatan membacakan nyaring justru tetap sangat bermanfaat hingga usia remaja untuk membangun diskusi mendalam dan mengenalkan topik-topik kehidupan yang kompleks.
Buku ini dilengkapi daftar hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari saat membacakan buku. Mulai dari pemilihan durasi baca, ritme suara, hingga cara merespons pertanyaan anak di tengah cerita.
Tersedia daftar rekomendasi buku berdasarkan kelompok usia dan genre, lengkap dengan ringkasan singkatnya (sangat berguna bagi orang tua yang bingung mulai dari mana).
Kelebihan Buku
Buku ini ditulis dan disusun berdasarkan riset namun tetap mudah dipahami. Bahasa yang digunakan juga hangat dan tidak terkesan menggurui. Ajaibnya, setelah membaca beberapa bab saja, kita akan langsung terdorong untuk mengambil buku dan membacakannya ke anak.
Di beberapa bagian, buku ini juga selalu menekankan bahwa membaca itu bukan sekadar tugas akademis, melainkan investasi hubungan (bonding) antara orang tua dan anak.
Catatan
Karena membaca versi terjemahan, maka sebagian besar referensi buku dalam daftar rekomendasinya berfokus pada buku berbahasa Inggris. Namun, prinsip dan metode yang diajarkan tetap 100% relevan untuk diterapkan dengan buku-buku berbahasa Indonesia.
Kesimpulan
"The Read-Aloud Handbook" adalah buku wajib bagi setiap orang tua, calon orang tua, guru, dan penggiat literasi. Buku ini membuka mata kita bahwa menumbuhkan anak yang gemar membaca tidak membutuhkan metode yang rumit atau mahal. Cukup luangkan waktu 15 menit sehari untuk duduk bersama dan membacakan sebuah cerita.
Rating
4.8/5 ⭐️
Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah menerapkan rutinitas membacakan nyaring ini di rumah? Tulis pengalamanmu di kolom komentar, ya!