article16 September 2026

Cara Beradaptasi dengan Peran Baru sebagai Orang Tua

Ditulis oleh Admin User

Transisi dari status lajang menjadi menikah mungkin menjadi perubahan yang cukup signifikan. Pasalnya, kehidupan yang semula sendiri lalu hidup bersama dengan orang lain yang mungkin baru ditemui beberapa waktu belakangan, tentu akan berbeda. Ada banyak adaptasi yang perlu disesuaikan. Namun ternyata, ada peran yang lebih mengagetkan dibanding dua orang asing yang akhirnya menikah. Ialah menjadi orang tua.

Saat mendapat peran baru sebagai orang tua, dunia seolah-olah benar-benar berubah. Ada satu manusia lagi yang harus mendapatkan prioritas kita dan itu akan berlangsung seumur hidup. Banyak hal yang harus dibenahi dari diri karena nantinya kita akan menjadi contoh bagi mereka, anak-anak kita.

Dalam literatur ilmiah, perubahan dari seseorang menjadi orang tua sering disebut sebagai transition to parenthood atau transisi menuju peran sebagai orang tua. Masa ini dipandang sebagai salah satu perubahan besar dalam kehidupan yang dapat membawa kebahagiaan sekaligus tekanan baru.

Meski begitu, selalu ada cara untuk setiap hal baru dalam hidup kita. Salah satunya cara beradaptasi menjadi orang tua. 

  1. 1. Beri Diri Waktu untuk Beradaptasi

Ada anggapan bahwa ketika bayi lahir, naluri sebagai orang tua akan langsung muncul dan kita otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Kenyataannya, belajar menjadi orang tua adalah sebuah proses. Kita mungkin sudah membaca banyak buku, mengikuti kelas persiapan kelahiran, mendengar cerita dari orang tua lain, atau merasa sudah cukup siap sebelum bayi lahir. Namun, ketika akhirnya benar-benar menjalani hari-hari bersama seorang anak, pengalaman tersebut bisa terasa sangat berbeda.

Menjadi orang tua artinya kita sedang belajar mengenali kebutuhan anak sekaligus mengenali diri sendiri dalam peran yang baru. Sebuah kajian yang membahas intervensi psikologis dan emosional bagi orang tua baru menunjukkan bahwa transisi menuju parenthood memang memiliki dampak terhadap kesejahteraan psikologis orang tua. Artinya benar, jika menjadi orang tua kita sangat memerlukan dukungan guna meminimalisir gejala depresi, kecemasan, dan stres, terutama pada ibu. Kebutuhan untuk mendapatkan dukungan bukan tanda bahwa seseorang gagal menjadi orang tua. Justru, itulah proses belajar dan beradaptasi.

  1. 2. Menyadari Bahwa Identitas Kita Berubah

Sebelum menjadi orang tua, mungkin ada banyak hal yang membentuk identitas seseorang. Apakah ia seorang pekerja, pasangan, anak dari orang tua, teman, pembaca, pelari, penulis, atau seseorang yang punya banyak waktu untuk mengejar hal-hal yang disukai.

Kemudian lahirlah anak di tengah-tengah segala hiruk pikuk tersebut. Dan perlahan, kata “orang tua” menjadi salah satu bagian terbesar dari identitas itu. Perubahan ini bisa terasa indah, tetapi bisa juga mengganggu bagi sebagian orang. Ada orang tua yang merasa sangat bahagia dengan identitas barunya, tetapi ada pula yang sesekali merindukan kehidupan sebelum memiliki anak. Bahkan kedua perasaan tersebut bisa muncul bersamaan.

Merasa rindu terhadap sebagian kehidupan lama tidak otomatis berarti kita tidak bersyukur atas kehidupan yang sekarang. Kita hanya sedang berusaha menemukan cara untuk menjadi diri sendiri sekaligus menjalankan peran baru. Karena itu, tidak perlu buru-buru mencari versi dirimu yang sempurna sebagai orang tua, sebab tidak mungkin ada manusia yang sempurna. Alih-alih mencari tahu siapa diri kita, apakah yang dulu atau yang sekarang, lebih baik kita mengupayakan bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan.

3. Jangan Lupakan Hubungan dengan Pasangan

Ketika seorang bayi hadir, tidak bisa dipungkiri bahwa perhatian kita akan banyak tertuju kepadanya. Banyak sekali hal-hal baru berkaitan dengan anak yang harus dilakukan dan terkadang, tanpa kita sadari membuat hari terasa penuh. Dan di tengah kesibukan tersebut, hubungan dengan pasangan terkadang berada di urutan paling belakang. Padahal, menjadi orang tua juga berarti belajar menjalani perubahan bersama. 

Sebuah penelitian menemukan bahwa transisi menjadi orang tua dapat membawa berbagai perubahan dalam hubungan pasangan, seperti fokus yang berpindah kepada bayi, perubahan komunikasi, perubahan keintiman, tekanan dalam hubungan, tetapi juga kemungkinan munculnya hubungan yang semakin kuat. Jadi, setelah menjadi orang tua perubahan dalam hubungan, sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh. Yang paling penting adalah kedua orang tua menyadari perubahan tersebut.

Mungkin setelah memiliki anak, bentuk perhatian kepada pasangan tidak lagi selalu berupa makan malam romantis atau pergi berdua seperti dulu. Kadang, perhatian bisa sesederhana, pertanyaan sudah makan belum, kalimat biar aku saja yang gendong, tawaran untuk istirahat bergantian, atau sekadar bertanya apakah hari ini terasa berat. Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di tengah kehidupan yang berubah, mengucapkan kalimat-kalimat tersebut bisa menjadi pengingat bahwa sepasang orang tua baru itu masih berada di sisi yang sama.

4. Kita Tidak Harus Langsung Mahir Menjadi Orang Tua

Ada hari ketika semuanya berjalan sesuai rencana seperti anak tidur dengan baik, rumah cukup rapi, bisa makan tepat waktu, bahkan sempat mandi dengan tenang. Namun, ada hari lain ketika semuanya terasa berantakan. Anak rewel, rencana batal, rumah berantakan, tubuh kelelahan, dan akhirnya muncul pertanyaan “Apa aku sudah melakukan semuanya dengan benar?”.

Pertanyaan seperti itu tentu sangat manusiawi. Tetapi menjadi orang tua bukan tentang berhasil menjalani setiap hari dengan sempurna. Ada kalanya hari-hari memang bisa berjalan dengan baik, namun ada juga waktu-waktu terasa begitu kacau. Dan kita bisa belajar dari keduanya.

Penelitian tentang transisi menuju parenthood menunjukkan bahwa dukungan psikologis dan emosional dapat membantu orang tua melewati masa perubahan tersebut. Ini menunjukkan bahwa adaptasi bukan sesuatu yang harus dilakukan sendirian. Jadi, mungkin ukuran keberhasilan menjadi orang tua tidak perlu selalu besar. Hari ini mungkin kita hanya berhasil membuat anak tenang. Di lain waktu kita memang harus meminta bantuan karena sudah terlalu lelah. Itu semua tidak apa-apa, sebab orang tua juga manusia biasa.

5. Bangun Dukungan

Menjadi orang tua sering membuat seseorang merasa harus mampu melakukan semuanya sendiri. Padahal, manusia tidak dirancang untuk menjalani perubahan yang langsung besar, apalagi tanpa adanya dukungan.

Kebutuhan terhadap dukungan dan informasi menjadi hal yang penting terhadap peran baru sebagai orang tua. Para peneliti juga menemukan bahwa kurangnya sumber informasi yang sesuai dan kurangnya dukungan dapat menjadi hambatan bagi orang tua dalam mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Dukungan bisa datang dalam banyak bentuk. Keluarga dekat, teman, pasangan, komunitas sesama orang tua, tenaga kesehatan, hingga bantuan profesional apabila memang diperlukan. Kita tidak harus menunggu sampai benar-benar kewalahan untuk mencari bantuan. Meminta bantuan bukan berarti kita tidak mampu, namun justru karena kita peduli pada diri dan keluarga, kita memilih untuk tidak menjalani semuanya sendirian.

6. Izinkan Diri Menemukan Ritme Baru

Cara menjadi orang tua antara satu dan yang lainnya tidak pernah sama. Apa yang berhasil untuk satu orang tua belum tentu cocok untuk orang tua lainnya. Ada orang tua yang cepat menemukan ritmenya. Ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Ada yang merasa sudah mulai terbiasa, lalu kembali merasa kewalahan ketika anak memasuki fase perkembangan berikutnya.

Menjadi orang tua bukan satu perubahan yang terjadi sekali lalu selesai. Anak terus bertumbuh dan berkembang, yang mana sebagai orang tua pun kita juga harus terus belajar dan beradaptasi. Kita tidak perlu terlalu repot mencari tahu apa yang ada di depan. Kita hanya perlu menjalani apa yang sedang ada di depan kita saat ini. Setiap fase tentu akan membawa pelajaran yang berbeda. Dan kita pun akan menjadi versi diri yang berbeda di setiap fasenya. Menemukan cara untuk tumbuh bersama anak, tanpa kehilangan seluruh bagian dirimu sendiri.

Referensi

Delicate, A., Ayers, S., & McMullen, S. (2018). A systematic review and meta-synthesis of the impact of becoming parents on the couple relationship. Midwifery, 61, 88–96.

Refaeli, L. B., Rodrigues, M., Neaman, A., Bertele, N., Ziv, Y., Talmon, A., & Enav, Y. (2024). Supporting the transition to parenthood: A systematic review of empirical studies on emotional and psychological interventions for first-time parents. Patient Education and Counseling, 120, 108090.

Schumacher, J. A., & Doss, B. D. (2016). The transition to parenthood: Impact on couples' romantic relationships. Current Opinion in Psychology, 13, 81–85.