Rayakan Setiap Bab Kehidupan

Chapter of Cheers adalah ruang tumbuh yang aman untuk setiap cerita di bab-bab hidupmu. Disini kita bisa berbagi apa saja termasuk hobi membaca buku apapun itu. Sebab setiap cerita berhak dirayakan.

Parent and child reading together

"Hidup selayaknya buku yang memiliki serangkaian bab. Ada yang menyenangkan, membuat sedih, marah, mengecewakan, penuh liku, dan juga menantang. Dan semua itu boleh dirayakan."

Reading Room

Kurasi buku-buku parenting, pengembangan diri, dan fiksi untuk menginspirasi babak kehidupan Anda selanjutnya.

Lihat semua buku
Review Buku Parenting di Negara Gagal: Mengasuh Anak di Tengah Krisis
Review

Review Buku Parenting di Negara Gagal: Mengasuh Anak di Tengah Krisis

Judul Buku: Parenting di Negara GagalPenulis: Kalis MardiasihPenerbit: MojokJumlah Halaman: 110 HalamanKategori: Parenting/Kritik Sosial/Sosiologi PopularSiapa sih yang tidak ingin mendidik anak dengan nyaman dan akhirnya melahirkan anak yang bisa tumbuh dengan bahagia? Rasanya semua orang tua ingin melakukan hal-hal ideal tersebut. Namun, realita nyatanya tidak selalu semulus itu. Untuk bisa mewujudkan impian semua orang itu, diperlukan dukungan besar yang bisa sepakat dengan itu semua. Disini peran negara begitu diperlukan. “Tapi masa ngurus anak sampai butuh negara sih?”Ya bagaimana tidak, anak kita tumbuh dan besar di negara ini. Mau tidak mau negara punya peran dan tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak-anak yang tinggal di negara tersebut. Sebab sekeras apapun orang tua mengusahakan, kalau lingkungan tempat mereka akan dilepas justru tidak supportive ya percuma saja.Pengasuhan itu melibatkan banyak sekali orang. Tidak melulu pada cakupan orang tua saja, namun orang-orang di sekitar anak juga punya peran yang sama pentingnya. Dalam hal ini ya salah satunya negara. Jika sebagian besar buku parenting berfokus pada pendekatan domestik: cara meredakan tantrum, mengatur waktu main anak, atau melatih emosi orang tua. Namun, ada satu buku yang ternyata relevan dengan keresahan kita sebagai orang tua yang tinggal di negara ini. Parenting di Negara Gagal karya Kalis Mardiasih justru mengambil sudut pandang yang lebih makro dan kritis. Mbak Kalis mengajak pembaca melihat bahwa beban pengasuhan bukan semata-mata tanggung jawab personal di dalam rumah, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan kebijakan publik sebuah negara. Poin-Poin Kunci & Isu Utama yang DiangkatBeban Pengasuhan dan Beban Sistemik: Negara seringkali menuntut keluarga melahirkan generasi unggul, namun gagal menyediakan infrastruktur dasar yang aman, seperti trotoar yang ramah anak, transportasi umum yang layak, hingga fasilitas kesehatan dan pendidikan yang terjangkau.Tantangan Ruang Publik Bagi Ibu dan Anak: Menyoroti betapa minimnya ruang ramah ibu menyusui, ruang bermain anak yang gratis dan aman, serta stigma sosial yang kerap dialami ibu saat membawa anak di tempat umum.Kritik Terhadap Eksploitasi Isu Pengasuhan: Bagaimana narasi parenting sering dijadikan komoditas industri tanpa menyelesaikan akar masalah kesenjangan ekonomi dan sosial yang dialami para orang tua.Pentingnya Support System Komunal: Mendorong kesadaran bahwa pengasuhan membutuhkan keterlibatan masyarakat dan komunitas (it takes a village to raise a child), bukan membiarkan orang tua berjuang sendirian.Buku ini ditulis dengan gaya mbak Kalis yang tajam, mudah dipahami, dan dekat dengan realitas. Hal ini dapat membuka mata kita semua bahwa rasa lelah menjadi orang tua seringnya bersumber dari sistem yang tidak mendukung. Selain itu, tulisan mbak Kalis di buku ini juga sangat sesuai dengan kondisi masyarakat dan kebijakan publik di negara kita hari ini.Kesimpulan Parenting di Negara Gagal sangat layak dibaca siapa saja yang ingin melihat pengasuhan dari kacamata yang lebih luas. Buku ini memberikan rasa lega (validasi) bagi para orang tua yang selama ini merasa bersalah atau kewalahan, sekaligus membuka ruang diskusi kritis mengenai pentingnya kebijakan publik yang ramah keluarga. Buku ini sangat direkomendasikan untuk:Orang tua dan calon orang tua yang ingin memahami dinamika pengasuhan dalam konteks sosial-politik.Pengamat sosial, aktivis hak perempuan dan anak, serta pembuat kebijakan.Pembaca yang menyukai esai-esai kritis bernuansa reflektif.Rating4,7/5

Baca Ulasan
Menyiapkan Kualitas Diri Sebelum Menjalani Peran Pengasuhan
Review

Menyiapkan Kualitas Diri Sebelum Menjalani Peran Pengasuhan

Judul Buku: Berkembang Baik Sebelum Berkembang Biak Penulis: Reza Andhika (@rezandhk) Penerbit: Mediakita Jumlah Halaman: 136 Halaman Kategori: Self-Improvement/ParentingBeberapa orang banyak yang lebih berfokus pada persiapan finansial atau memperhatikan teknis pernikahan sebelum menikah. Hal tersebut tidak salah. Hal tersebut juga sangat penting untuk berjalannya kehidupan rumah tangga kedepannya. Namun ada hal lain yang tidak kalah penting dengan hal-hal di atas. Yaitu kesiapan psikologis dan pematangan karakter pribadi.Entah ingin menjadi orang tua atau tidak, individu yang akan menikah sebaiknya memang berproses terlebih dahulu menjadi individu yang paham akan dirinya. Sebelum nantinya memahami orang lain, dalam hal ini adalah pasangan dan nantinya anak. Melalui Berkembang Baik Sebelum Berkembang Biak, Reza Andhika mengangkat tajuk bahwa seseorang perlu membenahi dan mendewasakan dirinya terlebih dahulu, secara emosional, spiritual, dan mental, sebelum memikul tanggung jawab besar melahirkan serta mengasuh generasi penerus.Buku ini menegaskan bahwa pengasuhan yang berkualitas lahir dari individu yang telah selesai dengan masalah pribadinya, bukan dari sekadar dorongan biologis untuk melanjutkan keturunan.Poin Penting Dari BukuKematangan Emosional sebagai Fondasi Utama: Ketidakmampuan mengendalikan emosi diri sendiri akan berdampak langsung pada pola komunikasi dan pengasuhan anak kelak.Proses Self-Healing dan Penyelesaian Trauma: Seseorang harus mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan isu masa lalu (inner child) agar luka lama tersebut tidak terproyeksi secara tidak sadar kepada pasangan maupun anak.Penyelarasan Nilai Bersama Pasangan: Pentingnya menyamakan pandangan, batas toleransi, dan ekspektasi bersama pasangan sebelum melangkah ke tahap pengasuhan.Edukasi dan Pembentukan Karakter Berkelanjutan: Proses belajar tidak berhenti saat seseorang menikah. Orang tua dituntut untuk terus mengasah kapasitas diri seiring dengan dinamika pertumbuhan anak.KelebihanMembahas persoalan hulu (kesiapan diri) sebelum melangkah ke masalah hilir (teknis pengasuhan).Penyampaian lugas, to the point, dan tidak berbelit-belit.Sangat relevan untuk generasi muda dan pembaca yang menyukai tulisan reflektif.KekuranganPembahasan relatif singkat karena jumlah halaman yang tergolong tipis.Beberapa konsep terasa umum dan butuh eksplorasi lebih dalam secara mandiri oleh pembaca.Formatnya lebih fokus pada penguatan pola pikir daripada panduan teknis mendetail.Kesimpulan & RekomendasiTerlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku Berkembang Baik Sebelum Berkembang Biak adalah bacaan yang memberikan pencerahan mengenai esensi kesiapan diri, terutama sebelum menikah. Buku ini sangat direkomendasikan bagi:Dewasa muda yang sedang mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan.Calon orang tua yang ingin memastikan kesiapan mental dan emosional sebelum memiliki anak.Siapa saja yang ingin melakukan refleksi diri atas kesiapan menjalani peran dalam keluarga.Rating4.7/5

Baca Ulasan
The Whole-Brain Child: Mengenali Perkembangan Otak Anak
Review

The Whole-Brain Child: Mengenali Perkembangan Otak Anak

Judul: The Whole-Brain ChildPenulis: Daniel J. Siegel, M.D. & Tina Payne Bryson, Ph.D.Jumlah Halaman: 256 Halaman (Inggris)/280 Halaman (Terjemahan Indonesia)Sebagai orang tua pasti kita semua pernah ada di situasi anak tantrum parah perkara hal sepele. Seperti misalnya ketika anak ingin membuka botol minumnya sendiri, tapi kita tidak sengaja membukakan untuk mereka. Lalu mereka akan menangis hingga histeris. Tentu yang ada di pikiran kita orang tua, orang dewasa, kejadian tersebut sangat remeh dan gak make sense seorang manusia menangisi hal tersebut. Namun kenyataan berbicara sebaliknya.Di saat seperti itu kita merasa clueless dan butuh bantuan. Mungkin salah satu bantuan yang bisa kita dapatkan adalah dengan membaca buku The Whole-Brain Child. Buku ini layaknya kaca pembesar yang membantu kita melihat apa yang terjadi di dalam kepala anak. Ternyata, saat anak sedang meledak, itu bukan karena mereka sengaja nakal atau mau menguji kesabaran kita, orang tuanya. Namun, ternyata, secara biologis, bagian otak logika mereka (otak atas) memang belum tersambung dengan bagian emosi (otak bawah). Beberapa Catatan Penting dari Buku The Whole-Brain ChildPeluk Dulu, Logika Kemudian (Connect & Redirect). Dalam buku ini penulis mengingatkan kita untuk meredam ledakan anak, kita harus hadir terlebih dahulu untuk anak. Kita bisa memeluk atau sekadar mengucapkan “sedih ya?”. Setelahnya, begitu anak lebih tenang, kita bisa mengajak mereka membicarakan masalahnya.Namai Perasaannya (Name It to Tame It). Saat anak takut atau trauma akan suatu hal, mintalah mereka menceritakan ulang kejadiannya. Tentu hal ini dilakukan saat mereka sudah lebih tenang dan nyaman. Sebab ternyata mengubah ketakutan menjadi sebuah cerita merupakan cara paling efektif untuk membuat otak anak memproses emosi tersebut secara tenang."Meledaknya" Otak Emosional. Anak-anak belum memiliki kemampuan untuk pause saat emosi mereka meluap. Sebagai orang tua, sebaiknya kita tidak membalas mereka dengan emosi juga pada saat seperti ini. Kita, orang dewasa, seharusnya menjadi pengendali supaya mereka tenang kembali.Selain beberapa poin yang telah disebutkan, buku ini sangat layak untuk dibaca karena meski ditulis oleh dokter spesialis neuropsikiatri, namun bahasa yang digunakan tetap mudah dimengerti. Selain itu terdapat ilustrasi sederhana yang bisa kita lihat bersama dengan anak. Buku ini juga tidak meminta orang tua untuk tidak boleh marah. Tetapi mengajari kita bagaimana menangani perasaan kita sendiri sebagai orang tua saat keadaan rumah sedang kacau.Rating5/5

Baca Ulasan

Parent Chapter

Artikel mendalam tentang parenting, tumbuh kembang anak, dan perjalanan pengembangan diri.

Lihat semua artikel
Article14/10/2026

Kenapa Orang Tua Tidak Harus Melakukan Semuanya Sendiri

Dalam budaya masyarakat, sering kali kita melihat bahwa orang tua, khususnya ibu merupakan gambaran sosok layaknya superhero. Harus kuat, tidak boleh sakit, mampu mengurus rumah tangga, menyiapkan makanan, merawat anak, hingga bekerja secara mandiri tanpa bantuan pihak lain. Stigma ini pun akhirnya melekat dan dijadikan parameter sebagai orang tua yang ideal. Akhirnya para orang tua ini, terutama ibu, memiliki keinginan untuk melakukan segalanya sendiri (do-it-all syndrome), sebab jika tidak mereka akan dibombardir oleh rasa bersalah atau tekanan sosial (parenting guilt).Padahal, mana ada manusia yang sempurna dan kehidupan yang ideal? Secara biologis dan psikologis pun, manusia memiliki keterbatasan energi. Memaksakan diri...

5 mnt bacaBaca Artikel
Article13/10/2026

Menjadi Orang Tua Juga Butuh Kesiapan Mental

Persiapan fisik dan finansial memang paling sering dipersiapkan oleh pasangan suami istri sebelum hadirnya buah hati. Pasalnya hal-hal tersebut memang krusial dan lebih mudah terlihat oleh mata kita, manusia. Berbondong-bondong pasangan suami istri membeli perlengkapan bayi, memilih rumah sakit persalinan, hingga merancang kamar anak. Namun, disamping itu semua, ada hal lain yang tidak kalah penting namun masih sering diabaikan, yaitu kesiapan mental dan emosional untuk menjadi orang tua.Menjadi orang tua (parenthood) adalah salah satu transisi psikologis terbesar dalam hidup manusia. Perubahan pola tidur, fluktuasi hormon, penyesuaian identitas diri, hingga tanggung jawab baru dapat memicu stres mendalam jika tidak diantisipasi dengan...

5 mnt bacaBaca Artikel
Article13/10/2026

Cara Menjaga Hubungan dengan Pasangan Setelah Punya Anak

Hadirnya anak di tengah sepasang suami istri adalah kebahagiaan yang luar biasa. Meski ada rasa was-was dan khawatir, nyatanya banyak pasangan sepakat bahwa mereka lebih excited untuk menata dan menjalani kehidupan baru sebagai ‘keluarga kecil’. Namun, bukan hidup namanya jika hanya bahagia saja. Di balik tawa dan momen manis bersama buah hati baru, ternyata tidak sedikit pasangan suami istri yang merasa hubungan mereka justru merenggang pasca persalinan. Pasalnya, kelelahan fisik, kurang tidur, hingga transisi peran baru sering kali menguras energi emosional yang sebelumnya dicurahkan hanya untuk pasangan.Secara ilmiah, penurunan kepuasan pernikahan setelah memiliki anak adalah hal yang umum terjadi. Sebuah...

5 mnt bacaBaca Artikel
Community gathering

Setiap babak terasa lebih indah saat dibagikan.

Chapter of Cheers menyambut para orang tua, calon orang tua, pecinta buku, dan siapa saja yang tertarik untuk belajar dan tumbuh bersama. Temukan ruang Anda untuk terhubung, berbagi, dan menjadi bagian dari kami.

  • Silent Book Club

    Bawa buku bacaan Anda dan nikmati satu jam membaca dalam keheningan, dilanjutkan dengan sesi sosialisasi santai.

  • Sesi Membaca Nyaring (Read Aloud)

    Sesi bercerita interaktif yang dirancang untuk memancing imajinasi anak-anak.

  • Diskusi Komunitas

    Ruang aman untuk membicarakan tantangan pengasuhan, wawasan buku, dan pengembangan diri.

Merayakan hal-hal kecil.

"Hari ini anakku akhirnya selesai membaca buku sendiri."

"Kami mengadakan malam read-aloud pertama kami dan rasanya sangat ajaib."

"Aku berhasil melewati minggu pertamaku sebagai orang tua baru. Menjalaninya satu hari demi satu hari."

"Kami akhirnya menemukan rutinitas tidur yang benar-benar cocok untuk kami."

Sedikit inspirasi untuk babak Anda selanjutnya.

Dapatkan rekomendasi buku, wawasan parenting, aktivitas anak, dan kabar terbaru komunitas langsung di kotak masuk Anda.