Cara Menjaga Hubungan dengan Pasangan Setelah Punya Anak

Hadirnya anak di tengah sepasang suami istri adalah kebahagiaan yang luar biasa. Meski ada rasa was-was dan khawatir, nyatanya banyak pasangan sepakat bahwa mereka lebih excited untuk menata dan menjalani kehidupan baru sebagai ‘keluarga kecil’. Namun, bukan hidup namanya jika hanya bahagia saja. Di balik tawa dan momen manis bersama buah hati baru, ternyata tidak sedikit pasangan suami istri yang merasa hubungan mereka justru merenggang pasca persalinan. Pasalnya, kelelahan fisik, kurang tidur, hingga transisi peran baru sering kali menguras energi emosional yang sebelumnya dicurahkan hanya untuk pasangan.
Secara ilmiah, penurunan kepuasan pernikahan setelah memiliki anak adalah hal yang umum terjadi. Sebuah studi berjudul “Testing the Transition to Parenthood” oleh Doss et al. (2009) yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa sebagian besar pasangan mengalami penurunan kepuasan hubungan yang signifikan secara tiba-tiba (sudden decline) setelah kelahiran anak pertama, dibandingkan dengan perubahan bertahap pada pasangan yang belum memiliki anak.
Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan terjadi berlarut-larut. Setiap pasangan suami istri, meskipun memiliki anak harus tetap menyalakan spark dalam pernikahan agar hubungan tidak terasa hambar. Namun tidak jarang pasangan suami istri ini pun bingung bagaimana harus memulai. Pada artikel kali ini terdapat beberapa langkah berbasis psikologi dan sains yang dapat diterapkan bersama pasangan agar hubungan tetap hangat, intim, dan solid di tengah kesibukan mengasuh anak,
1. Luangkan Micro-Connection Harian
Ketika ‘kencan’ berjam-jam terasa sulit diwujudkan karena keterbatasan waktu dan tenaga, fokuslah pada koneksi mikro (interaksi kecil namun berkualitas).
Peneliti hubungan pernikahan ternama, Dr. John Gottman, menekankan pentingnya “turning toward” atau bagaimana menanggapi sinyal emosional pasangan). Dalam aktivitas sehari-hari, micro-connection bisa diwujudkan melalui:
Pelukan hangat selama 20 detik sebelum beraktivitas (merangsang hormon oksitosin).
obrolan tanpa distraksi gawai selama 10–15 menit sebelum tidur.
Mengirimkan pesan singkat berisi apresiasi di tengah hari (“Terima kasih ya sudah bantu ganti popok tadi pagi”).
2. Terapkan Komunikasi Empatis tanpa Menyalahkan (Nonviolent Communication)
Kurang tidur dapat menurunkan fungsi korteks prefrontal otak yang membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi dan bersikap defensif. Riset oleh Pence & Lawson (2003) menunjukkan bahwa kelelahan pasca persalinan berkorelasi langsung dengan meningkatnya frekuensi konflik komunikasi pada pasangan baru.
Gunakan teknik “I-Message” saat menyampaikan kelelahan atau keluhan, ketimbang kalimat tuduhan (“You-Message”):
Bukan: "Kamu gak pernah peka, aku capek banget pegang anak sendirian!"
Gunakan: "Aku merasa kewalahan dan capek banget hari ini. Boleh tolong bantu pegang adik sebentar biar aku bisa mandi tenang?"
3. Bagi Tugas Secara Adil dan Transparan (Mental Load Balance)
Sering kali ketegangan dalam rumah tangga dipicu oleh mental load (beban pikiran untuk merencanakan dan mengorganisasi kebutuhan rumah) yang tidak seimbang.
Studi oleh Mikelson (2008) mengenai kesetaraan gender dalam rumah tangga menemukan bahwa persepsi keadilan dalam pembagian tugas rumah tangga dan pengasuhan berhubungan erat dengan kepuasan pernikahan serta keintiman emosional pasangan.
Buat daftar tugas yang jelas: siapa yang bertanggung jawab atas urusan mencuci perlengkapan bayi, menyetrika, hingga menenangkan anak di malam hari.
Evaluasi pembagian peran ini secara berkala setiap minggu tanpa rasa saling menghakimi.
4. Redefinisi Keintiman dan Seksualitas
Pemulihan fisik pasca melahirkan, perubahan hormon (terutama saat menyusui yang menurunkan kadar estrogen), serta rasa lelah sering kali menurunkan hasrat seksual.
Riset oleh Pacey (2004) dalam Sexual and Relationship Therapy mencatat bahwa perubahan fungsi dan kepuasan seksual setelah memiliki anak adalah hal yang normal dan membutuhkan masa penyesuaian kembali.
Fokus pada keintiman non-seksual terlebih dahulu: bergandengan tangan, pijatan lembut, atau sekadar berpelukan di sofa saat bayi tidur.
Diskusikan ekspektasi secara terbuka: jangan ragu membicarakan rasa nyaman, kecemasan, atau perubahan tubuh tanpa rasa malu dengan pasangan.
5. Tetap Menjadi Team First, Lalu Parent Second
Ingatlah bahwa fondasi utama dari keluarga yang sehat adalah hubungan yang kuat antara suami dan istri. Anak akan tumbuh dengan bahagia dan merasa aman ketika melihat kedua orang tuanya saling mengasihi dan bekerja sama dengan harmonis. Ingat, bahwa memprioritaskan pasangan bukan berarti mengabaikan anak, melainkan memberikan lingkungan emosional yang stabil untuk tumbuh kembang mereka.
Referensi Jurnal Ilmiah
Doss, B. D., Rhoades, G. K., Stanley, S. M., & Markman, H. J. (2009). Testing the transition to parenthood: a longitudinal study of the satisfaction and relationship functioning of married and cohabiting couples. Journal of Personality and Social Psychology, 96(2), 436–452.
Gottman, J. M., & Silver, N. (2015). The Seven Principles for Making Marriage Work. Harmony.
Mikelson, S. J. (2008). He said, she said: Equity, marital satisfaction, and the division of labor. Communication Studies, 59(4), 405–424.
Pacey, S. (2004). Couples and the first child: Responding to sexual and relationship problems. Sexual and Relationship Therapy, 19(4), 381–392.
Ruang Diskusi
Komentar
Ikut berbagi cerita?
Masuk untuk menulis komentar dan membalas pembaca lain.