Kenapa Orang Tua Tidak Harus Melakukan Semuanya Sendiri

Dalam budaya masyarakat, sering kali kita melihat bahwa orang tua, khususnya ibu merupakan gambaran sosok layaknya superhero. Harus kuat, tidak boleh sakit, mampu mengurus rumah tangga, menyiapkan makanan, merawat anak, hingga bekerja secara mandiri tanpa bantuan pihak lain. Stigma ini pun akhirnya melekat dan dijadikan parameter sebagai orang tua yang ideal. Akhirnya para orang tua ini, terutama ibu, memiliki keinginan untuk melakukan segalanya sendiri (do-it-all syndrome), sebab jika tidak mereka akan dibombardir oleh rasa bersalah atau tekanan sosial (parenting guilt).
Padahal, mana ada manusia yang sempurna dan kehidupan yang ideal? Secara biologis dan psikologis pun, manusia memiliki keterbatasan energi. Memaksakan diri untuk memikul seluruh beban pengasuhan tanpa bantuan justru akan membuat orang tua mengalami kelelahan mental.
Secara ilmiah, konsep kuno “it takes a village to raise a child” bukan sekadar pepatah kiasan, melainkan sebuah kebutuhan neurobiologis dan psikologis yang nyata. Berikut adalah beberapa alasan ilmiah mengapa orang tua tidak harus melakukan segala sesuatunya sendirian.
1. Ancaman Nyata Parenting Burnout dan Dampaknya pada Anak
Alih-alih mampu mengerjakan segala hal secara sempurna dan mendapat label orang tua ideal, nyatanya keinginan untuk mengontrol dan mengerjakan segala hal secara mandiri justru memicu risiko kelelahan pengasuhan (parenting burnout).
Studi yang dilakukan oleh Mikolajczak, Gross, & Roskam (2019) dalam Annual Review of Clinical Psychology menjelaskan bahwa parenting burnout adalah sindrom kelelahan yang ditandai oleh kelelahan emosional terkait peran orang tua, kejenuhan emosional, serta jarak emosional dengan anak. Ketika orang tua berada di titik burnout parah, mereka lebih rentan melakukan pengasuhan yang keras (harsh parenting) atau mengalami parental neglect (pengabaian emosional tak disengaja).
Tentu, sebagai orang tua, kita tidak ingin menciptakan luka atau trauma pada anak. Karenanya, saat memang diri merasa sedang lemah dan lelah, tidak ada salahnya untuk mengakui keterbatasan diri. Membagi tugas bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah preventif untuk melindungi kesehatan mental diri sendiri dan kestabilan emosi anak.
2. Menurunkan Regulasi Emosi Melalui Co-Regulation
Bayi dan anak-anak masih mengandalkan sistem saraf orang dewasa di sekitar mereka untuk menenangkan diri. Proses ini disebut juga ko-regulasi (co-regulation). Tentunya, proses ini sangat wajar mengingat bayi dan anak-anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Mereka masih banyak bergantu pada orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya.
Namun nyatanya, orang tua pun bisa kelelahan saat harus mendampingi anak bertumbuh dan berkembang. Ahli neurobiologi interpersonal Dr. Dan Siegel dalam berbagai literatur pengasuhannya menekankan bahwa orang tua yang kelelahan dan kewalahan (overwhelmed) justru akan kehilangan kapasitas optimal di korteks prefrontal otaknya. Akibatnya, mereka sulit merespons tangisan anak dengan tenang.
Jika hal ini dilanjutkan, maka anaklah yang akan menjadi korban. Tentu kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi. Oleh karena itu, penting sebagai orang tua untuk memiliki support system yang membantu meringankan beban domestik (seperti bergantian menjaga anak) agar sistem saraf si orang tua ini memiliki kesempatan untuk pulih. Otak yang tenang adalah syarat utama untuk menjadi jangkar emosional bagi anak.
3. Mengajarkan Nilai Kemandirian dan Koneksi Sosial pada Anak
Seperti yang kita tahu, anak selalu melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Hal ini juga terjadi bahkan ketika orang tua tidak ragu meminta bantuan. Ketika anak melihat bahwa orang tuanya meminta bantuan atau bekerja sama dengan orang lain (keluarga besar, pengasuh, atau komunitas), maka anak juga sedang belajar mengenai konsep sosial yang sehat.
Anak memahami bahwa dunia adalah tempat yang aman di mana orang dewasa saling mendukung, bukan tempat di mana seseorang harus berjuang sendirian dalam kesendirian. Hal ini muga membantu anak untuk membangun rasa aman (secure attachment) secara holistik.
Kesimpulan
Menjadi orang tua hebat bukanlah tentang seberapa banyak pekerjaan rumah yang bisa kita selesaikan seorang diri tanpa bantuan, melainkan tentang seberapa bijak kita mampu mengelola energi agar tetap hadir secara utuh dan penuh kasih untuk anak.
Hilangkan pikiran untuk menjadi orang tua yang sempurna. Bukalah pintu bagi pasangan, keluarga, dan komunitas untuk turut mengambil peran. Karena dalam pengasuhan, membiarkan orang lain membantu adalah bentuk cinta terbesar bagi keluarga.
Referensi
Mikolajczak, M., Gross, J. J., & Roskam, I. (2019). Parenting burnout: What is it, and why does it matter? Annual Review of Clinical Psychology, 15, 351–379.
Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child: 14 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind. Delacorte Press.
Ruang Diskusi
Komentar
Ikut berbagi cerita?
Masuk untuk menulis komentar dan membalas pembaca lain.